Kamis, 06 Desember 2012

i like karya ahmad tohari




Novel dengan tema budaya yang berseting perjuangan hidup seorang perempuan berhasil digarap oleh Ahmad Tohari, yakni novel yang berjudul “ Ronggeng Dukuh Paruk”. Novel ini berlatarbelakang tentang sebuah kebudayaan di daerah tertentu. Bagaimana pengaruh kebudayaan itu bagi masyarakat. Novel ini menjadi sebuah refleksi bagi kehidupan bermasyarakat. Dapat dipergunakan sebagai literatur dengan pesan-pesan yang ada di dalamnya. Pesan yang berusaha digarap oleh pengarang. Novel yang bertema kebudayaan dan merupakan satu dari trilogi yang ditulis oleh Ahmat Tohari. Novel ini mengambil cerita tentang seorang ronggeng dengan kehidupannya dan bagaimana dia di dalam masyarakat. Perjuangan seorang perempuan di dalam meniti pilihan hidupnya.

Srintil adalah seorang penduduk di dukuh Paruk. Konon di dukuh itulalah dulu Ki Secamanggala bermukim, leluhur dari warga dukuh Paruk. Srintil adalah gadis kecil yang dipercaya oleh kakeknya kelak akan menjadi inang ronggeng. Akhirnya Srintil belajar menjadi calon ronggeng pada Kartareja. Kartareja adalah dukun ronggeng. Ayah dan ibu Srintil telah meninggal. Ayahnya, Santayib adalah penjual tempe bongkrek. Mereka berdua meninggal karena keracunan tempe bongkrek. Semenjak itu Srintil tinggal bersama kakek dan neneknya. Srintil berasal dari keluarga yang tidak punya dan tidak berada. Seorang gadis yatim piatu yang semenjak bayi kehilangan ayah dan ibunya. Ibunya dan beberapa warga dukun Paruk meninggal karena racun yang ada pada tempe bongkrek. Selanjutnya dia dirawat oleh nenek dan kakeknya. Srintil disetir kakeknya agar mau menjadi seorang ronggeng. Terhimpit oleh kemiskinan, menjadi seorang ronggeng berarti menjanjikan sebuah kemapanan. Itu satu diantara alasan mengapa Srintil mau menjadi Ronggeng.

Saat itu memang keadaan masyarakat Paruk tengah miskin- miskinnya. Susah makan dan serba kekurangan. Sangat memprihatinkan. Banyak gadis- gadis Paruk yang hendak menjadi ronggeng. Mereka menginginkan perubahan nasib. Mereka ingin terbebas dari jeratan kemiskinan.

Srintil yang menjadi penari ronggeng, Srintil seperti sebuah titisan roh moyang yang akan meneruskan tradisi Ronggeng di Dukuh Paruk. Menjadi seorang ronggeng juga, Srintil harus rela dan siap melayani setiap lelaki yang membayarnya untuk tidur bersama. Layaknya pelacur yang digambarkan terhormat dan di puja-puja. Sedangkan Rasus sendiri lelaki yang menghormati wanita. Dia membayangkan Srintil adalah sosok perempuan yang seperti ibunya yang selama ini belum pernah dilihat.

Pergolakan batin seorang Rasus yang menjadi tokoh utama juga dalam cerita ini, yang bercerita sebagai ‘Aku’. Menghidupkan dan membuat kita menjadi tahu seperti apa sebenarnya adat tradisi untuk menjadi ronggeng sejati. Tentang pencariannya dengan sosok emak yang dia ejawantahkan ke Srintil yang diam-diam dia cintai, namun tidak berdaya untuk menentang adat ronggeng, bahwa Srintil milik semua orang bukan untuknya. Dia memilih pergi dari dukuh Paruk untuk menghilangkan pikiran tentang Srintil yang dia gambarkan menjadi ibunya. Sesosok wanita cantik yang selama ini dia impikan.

Novel ini sebenarnya lebih banyak bercerita tentang Rasus, bukan Srintil sebagai Ronggeng. Tapi dari Rasus kita tahu hidup kedua tokoh tersebut. Tokoh Rasus, lelaki muda yang tegas. Menggunakan logika saat melakukan sesuatu, tidak tergoda saat Srintil mengajaknya berbuat dosa di tanah perkuburan. Tidak tergoda juga saat Srintil memintanya untuk dijadikan istri. Dia teguh dalam pikirannya menjadikan Srintil wanita yang terhormat dalam hatinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar